Semangat tumbuh diantara rekan-rekan muda...
bersama menimba ilmu dengan berbagai motivasi...
kurasakan kembali duniaku yang hilang....
yang terampas masa lalu...
Keceriaanku telah kembali
tidak peduli akan waktu yang mendatangi...
Energi yang tercurah... 100%
bagaikan balas dendam...
Egoku ternyata masih sama...
kalau bisa menjadi yang terbaik kenapa harus cukup dengan seadanya...
no ... itu bukan diriku...
karena
Aku merasa hidup di sini...
kurasakan kembali semangat yang tercecer rasa jenuh
Harapku hanya satu
Tubuhku mampu menampung energi dan semangatku....
Pelita kehidupan sangat dibutuhkan siapapun yang membutuhkan hidup yang berkualitas, terarah dan mempunyai tujuan yang jelas, bukan sekedar pelita secara harfiah melainkan pelita jiwa yang lebih bermakna sehingga kehidupannya dapat lebih dirasa manfaatnya tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi orang-orang yang dicintainya dan kalau bisa bagi masyarakat disekitarnya hingga menuju ridho Allah SWT.
Kamis, 27 September 2012
Rasa... kadang sukar kompromi
Ego... selalu mau di depan
Tersisih... menorehkan perih
Logika... sukar diterima
Prasangka... ingin menang
Yang tersisa... hanya luka...
maka ...
jangan biarkan...
luka itu menang...
lawan dan hadapi...
biarkan mereka...
tertawa... tapi hanya untuk sementara...
karena yakinlah
tawa itu akan mendatangimu dan meninggalkan mereka....
semangat....
Sabtu, 21 Januari 2012
My rating: 5 of 5 stars
Setiap kehidupan pasti mengalami hal yang berat, sedih, marah, kecewa...
Di saat kita mengalami hal-hal tersebut biasanya kita ingin curhat kepada seseorang untuk mengurangi beban yang terasa menghimpit di dada. Tetapi curhat memiliki suatu dilema tersendiri, tepatkah orang yang kita pilih sebagai teman curhat? Bisakah dia mencarikan solusi akan problem yang dihadapi? Bisa jadi bukannya solusi tapi masalah bertambah dan berita tersebar kemana-mana dan salah paham akan muncul. Maka tempat curhat yang aman hanyalah Allah, tempat meminta hanyalah Allah karena Allah maha mampu memberika solusi terbaik buat kita. Buku ini bisa menjadi teman saat kita berada dalam keadaan bimbang, buku ini bisa membantu kita menuju tempat seharusnya kita berkeluh kesah,seperti dikatakan : "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat." (QS. Al-Baqarah : 45). Baik sabar maupun shalat adalah bahan bakar kehidupan, bekal perjalanan, pintu harapan, dan kunci menuju jalan keluar. Artinya orang yang bersabar, dan selalu menjaga shalat maka, "Kabarkanlah kepadanya fajar yang menyingsing, kemenangan yang nyata dan pertolongan yang dekat"
Buku ini pun mampu membangkitkan motivasi kepada kita terutama kita sebagai umat muslim untuk membangkitkan energi positif yang bisa membawa kita untuk selalu mensyukuri setiap hal yang kita alami, dengan sabar, bersyukur dan ikhlas, hidup kita akan terasa indah dan bahagia. Semoga akupun bisa merasakannya... aamiin..
View all my reviews
Rabu, 21 Desember 2011
My rating: 5 of 5 stars
"Ummi....delisa cinta ummi karena Allah"
bergetar hati Ummi, bergetar hatiku membaca ungkapan itu...
seolah terdengar langsung ditelingaku.....
Kupilih buku ini di saat lelah dengan rutinitas
saat aku rindu untuk membaca
dan terasa tak sia-sia karena buku ini begitu menyentuh
mengungkap kepolosan hati seorang anak
tentang kecintaannya
kepada ummi
kepada Kak Fatimah
kepada Kak Zahra
kepada Kak Aisyah
kepada Abi
Yang dapat membuat seorang tentara Amerika bergetar hingga mendapat hidayahMu Ya allah
Yang dapat mengajari orang dewasa untuk menerima qadha dan takdir
Yang dapat mengajari kita untuk menerima dan Ikhlas...
View all my reviews
Senin, 05 Desember 2011
My rating: 3 of 5 stars
V. Lestari, salah satu pengarang wanita cerita detektif misteri yang buku-bukunya saya miliki, apalagi dia pengarang dari Indonesia.
Dalam cerita ini, yang mengisahkan tentang Suster Asih, seorang perawat dari Paviliun Maria, ruang rawat pasien yang akan dan telah dioperasi. Suster Asih diceritakan seorang perawat yang cantik, tinggi, baik dan cekatan dalam melaksanakan tugasnya. Dikisahkan juga kalau dia perempuan yang cukup sukar didekati lelaki secara serius karena trauma masa lalunya. Tetapi kalau menurut saya dengan karakter yang demikian dia masih terlalu mudah untuk diam saja dipegang dan dipeluk oleh pasien maupun dokter tempat dia curhat.
Walaupun maksudnya tidak enak hati untuk menolak ungkapan hati pasien-pasiennya terutama yang lelaki, rasanya gak sreg aja kalo dipegang atau digoda dia diam saja, gak layak untuk seorang perawat.
Demikian juga waktu dia curhat ke dokter Seno, yang dia anggap seperti ayah walaupun dokter itu toh menaruh hati juga padanya. Rasanya terlalu tergesa sampai harus memeluk dan mencium pipi segala. Seperti ada yang tidak tepat dari penggambaran karakter Asih di permulaan cerita dan perkembangan cerita berikutnya sampai dia harus terlibat dalam berbagai peristiwa pembunuhan.
View all my reviews
My rating: 4 of 5 stars
Buku ini aku dapatkan dari Suamiku yang dekat dengan keluarga keraton Kanoman di Cirebon, kondisi bukunya sudah tua dan tidak terawat, langsung saya amankan. Karena sebagai warga Cirebon, tentunya saya harus tahu sejarah cirebon itu sendiri dan merawat buku yang diterbitkan langsung dari perguruan Keprabonan yang mengeluarkan buku ini. Pada tahun 1980-an buku ini kemudian direvisi ulang oleh PN Balai Pustaka. Saya juga sudah mencari dan mendapatkan revisinya.
View all my reviews
My rating: 4 of 5 stars
Buku ini menceritakan beberapa hal yang dilihat dan diketahui penulisnya tentang hidup keseharian tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Suatu kisah yang mungkin belum tentu kita temui dalam biografi tokoh-tokoh tersebut, karena diceritakan dengan gaya yang lugas, apa adanya dengan menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Belanda yang aku sendiri gak tahu artinya dan terkadang tidak dia jelaskan dalam tulisannya.
Paling tidak ada hal yang menarik yaitu ketika mengetahui bahwa dalam sidang dewan perwakilan rakyat yang waktu itu masih bernama BPKNIP banyak wakil-wakil rakyat itu yang datang hanya dengan bercelana pendek, kemeja lengan pendek dan berbakiak. Bahkan salah satu anggotanya yang pernah menjadi Menteri PP & K, datang dengan mengenakan sarung, berkemeja dan tanpa sandal. Dapat kita bandingkan dengan kondisi sekarang, wakil rakyat yang berpenampilan mentereng datang dengan fasilitas mobil dan memperoleh banyak tunjangan, tapi apakah sumbangsih mereka sebesar yang telah diberikan para tokoh dalam buku ini? Kita lihat saja ke depan...
View all my reviews
Langganan:
Postingan (Atom)